Beranda

Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan

Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa Ke-3

Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan

Term of Reference

 

Dasar Pemikiran

 

Perumusan gagasan tentang tema buku ketiga Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk bangsa oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang akan kita garap bersama dalam tahun 2017 ini sangat terbantu oleh dua peristiwa sebagai berikut. Pertama, peluncuran Deklarasi Cerdas Berinternet oleh HIMPSI yang didukung oleh sejumlah mitra kerja termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diwakili oleh Menkominfo sendiri, Drs. Rudiantara, M.B.A.; Universitas Multimedia Nusantara yang diwakili oleh Rektor, Dr. Ninok Leksono; Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal, Erlinda Iswanto, M.Pd.; Kopertis Wilayah III Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang diwakili oleh Sekretaris Pelaksana, Putut Pujogiri, S.H.; Kantor Staf Ahli Presiden yang diwakili oleh Tenaga Ahli Kedeputian IV, Jojo Rahardjo. Peluncuran deklarasi itu sendiri terjadi mengiringi peluncuran buku kedua Seri Sumbangan Psikologi untuk Bangsa berjudul Psikologi dan Teknologi Informasi (2016), yang berlangsung di kampus Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, pada 24 Januari 2017. Bisa dikatakan, peluncuran deklarasi itu merupakan sejenis klimaks atau titik kulminasi dari keprihatinan komunitas psikologi di Tanah Air terhadap gejala menonjolnya dampak negatif penggunaan Internet khususnya media sosial dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari kita sebagaimana dipaparkan oleh berbagai tulisan dalam buku. Kedua, curah pendapat tentang alternatif tema buku ketiga ini di antara sejumlah personel Pengurus Pusat HIMPSI, meliputi antara lain Dr. M.G. Adiyanti, Josephine Ratna, M.Psych., Ph.D., Dr. Andik Matulessy, M.Si., Dr. Ayu Dwi Nindyati, Dra. B.K. Indarwahyanti Graito, M.Psi., Prof. Dr. Yusti Probowati, Dr. Seger Handoyo, dan Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., melalui salah satu grup WhatsApp (WA) Pengurus Pusat HIMPSI yang berlangsung dalam bulan Februari-Maret 2017.

Dua peristiwa di atas terjadi di tengah berlangsungnya pemilihan umum kepala daerah serentak tahun 2017 di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DKI Jakarta. Kita tahu, kontestasi bahkan pertarungan antar pasangan Cagub-Cawagub dalam rangka menarik dukungan suara khususnya dalam Pilgub di DKI Jakarta telah menimbulkan sejumlah fenomena yang berdampak memunculkan ketegangan bahkan keterbelahan antar warga masyarakat yang mengancam rasa damai dan bersatu dalam kebhinekaan kita sebagai bangsa. Rangkaian fenomena itu terpicu dan selanjutnya mengalami eskalasi sampai ke tingkat yang mengkhawatirkan terutama karena penggunaan Internet khususnya media sosial secara tidak bertanggungjawab. Peluncuran Deklarasi Cerdas Berinternet merupakan salah satu bentuk respon HIMPSI terhadap situasi yang memprihatinkan itu sebagaimana secara ringkas terungkap dalam konsiderans dan isi deklarasi tersebut, “... mengingat bahwa penggunaan media sosial menunjukkan gejala memprihatinkan yang bisa berdampak mengancam kebhinekaan dan ketahanan nasional bangsa Indonesia, maka HIMPSI menyatakan antara lain berkomitmen mengembangkan rancangan intervensi pendidikan dalam ranah psikologis untuk meningkatkan kecerdasan berinternet yang dapat diterapkan bagi peserta didik di lingkungan sekolah maupun bagi masyarakat luas di luar institusi sekolah” (Deklarasi, 2017).

Dalam konteks seperti di atas, diskusi curah pendapat tentang alternatif tema buku pun berkisar di antara gagasan-gagasan tentang pentingnya pendidikan berinternet secara cerdas, pendidikan tentang nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan tentang nasionalisme atau rasa kebangsaan, termasuk melalui penerapan smart and quality parenting dalam pendidikan keluarga. Sempat muncul pula gagasan tentang kesehatan, namun secara keseluruhan gagasan mengerucut pada tema ‘pendidikan dalam konteks kebangsaan’ dengan tiga subtema parenting atau pendidikan dalam keluarga, pendidikan cerdas berinternet, dan pendidikan nasionalisme. Lantas bagaimana tema besar tentang pendidikan dalam konteks kebangsaan beserta ketiga subtemanya tersebut bisa kita maknai dan selanjutnya kita kembangan menjadi buah-buah pemikiran berupa tulisan?

Kiranya tepat kalau kita kembali pada gagasan Ki Hadjar Dewantara (1962) tentang pendidikan untuk kita gunakan sebagai sumber inspirasi dan acuan dalam memperbincangkan pendidikan dalam konteks kebangsaan kita kini. Menurutnya, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak, yang beralaskan garis–hidup dari bangsanya, dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (h. 14-15).

Ada setidaknya empat gagasan dasar yang bisa kita petik sebagai cara kita memaknai rumusan Ki Hadjar tentang pendidikan dalam konteks kebangsaan kita di zaman sekarang. Pertama, pendidikan bertujuan membantu pertumbuhan peserta didik sebagai pribadi secara utuh, meliputi dimensi budi pekerti-karakter, intelek, maupun fisiknya. Kedua, pertumbuhan budi pekerti-karakter, intelek, maupun fisik peserta didik tersebut harus berdasarkan filsafat hidup negara-bangsa, bukan lain adalah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, pertumbuhan pribadi utuh peserta didik tersebut bukan semata-mata hanya demi kepentingan diri si peserta didik maupun lingkungan dekatnya seperti keluarga, suku, atau golongannya sendiri melainkan bahkan lebih-lebih demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih bermartabat bagi negara-bangsanya yaitu Indonesia. Akhirnya, keempat, untuk tidak terjebak pada nasionalisme sempit, Ki Hadjar juga menegaskan bahwa kehidupan negara-bangsa bermartabat yang hendak dicapai lewat pertumbuhan pribadi utuh masing-masing pribadi peserta didik tersebut bertujuan agar sebagai negara-bangsa kita mampu bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain menciptakan kehidupan bersama yang juga semakin bermartabat bagi seluruh umat manusia tanpa memandang aneka perbedaan entah berdasarkan gender, ras, suku, agama, dan aneka pembedaan atau penggolongan lain yang bersifat terberi maupun diperoleh atas dasar pilihan pribadi. Konsepsi Ki Hadjar tentang pendidikan bagi anak bangsa tak pelak mengandung visi yang mendalam sekaligus jauh ke depan, mencakup pandangan tentang manusia yang oleh Mangunwijaya (1999) disebut ‘manusia Indonesia dan pasca-Indonesia’ sekaligus. Artinya, pendidikan yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia dan pribadi yang selain mencintai dan memiliki kebanggaan terhadap negara-bangsanya sendiri sekaligus memiliki empati, solidaritas dan kepedulian terhadap kesejahteraan bersama bagi seluruh manusia di muka bumi.

Selanjutnya melalui gagasannya tentang Trisentra atau Tripusat, Ki Hadjar Dewantara hendak menunjukkan kepada kita cara pendidikan yang dicita-citakannya itu bisa dipraktikkan dan diwujudkan. Dengan mengutamakan pengembangan rasa sosial atau rasa kemasyarakatan dalam diri peserta didik, Ki Hadjar menyebut tiga tempat pergaulan sebagai ‘pusat pendidikan’ yang amat penting, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam-pergerakan-pemuda. Bagaimana gagasan tentang Trisentra atau Tripusat itu bisa kita maknai dalam konteks zaman sekarang? Alam keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting di zaman kini kiranya masih memiliki makna yang sama sebagaimana dimaksudkan oleh Ki Hadjar pada zamannya. Khususnya melalui rasa cinta dan rasa bersatu antara orang tua dan anak serta saudara dan sanak-saudara, keluarga dipandang berperan sangat  penting terutama dalam pendidikan budi pekerti dan budi kesosialan anak.

Begitu pula sama seperti di zaman Ki Hadjar, alam perguruan atau sekolah di zaman kini tetap merupakan pusat pendidikan yang teristimewa berkewajiban mengusahakan kecerdasan fikiran dan pemberian ilmu pengetahuan serta ketrampilan. Ki Hadjar dengan jelas membedakan pendidikan yang merupakan tugas utama keluarga dan pengajaran yang merupakan tugas utama perguruan atau sekolah. Pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebaliknya, pengajaran sebagai salah satu bagian dari pendidikan bertujuan memberikan ilmu atau pengetahuan dan kecakapan yang kedua-duanya dapat berfaedah bagi kehidupan anak-anak, baik lahir maupun batin (h. 20). Kalau kini orang gencar dan lantang menyuarakan pentingnya pendidikan karakter juga di lingkungan perguruan atau sekolah, maka misi itu haruslah dilaksanakan dengan menggunakan pengajaran yang merupakan tugas utamanya sebagai media atau sarana.

Di zaman Ki Hadjar Dewantara, alam pemuda sebagai sentra atau pusat ketiga pendidikan berupa pergerakan atau organisasi pemuda sebagai bentuk dari apa yang oleh Ki Hadjar disebut ‘pendidikan diri sendiri’. Bagi Ki Hadjar, pergerakan pemuda merupakan ‘daerah merdekanya kaum pemuda’ atau ‘kerajaan pemuda’ yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan melakukan penguasaan diri dalam rangka pembentukan watak (h. 72). Bentuk-bentuk pergerakan atau aktivitas pemuda sebagaimana menjamur di zaman Ki Hadjar tentu masih ada pula di zaman sekarang, namun tak bisa disangkal bahwa ‘kerajaan pemuda’ tempat peserta didik memperoleh dan mengalami ‘pendidikan diri sendiri’ yang sangat dominan di zaman kita sekarang tentu saja adalah Internet khususnya dan dunia teknologi komunikasi dan informasi pada umumnya.

Ditempatkan dalam konteks kebangsaan dan dengan mengutamakan pembentukan budi pekerti-karakter, intelek, dan budi sosial, pendidikan yang terlaksana melalui Tri-Sentra sebagaimana dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara dan yang ingin kita jadikan sumber inspirasi dalam memperbincangkan pendidikan kiranya memiliki kesamaan makna dengan public pedagogy atau pendidikan publik sebagaimana digagas oleh para pegiat pendidikan kritis (Giroux, 2004). Salah satu pengandaian dasar pendidikan publik menyatakan bahwa perkara-perkara privat terkait kehidupan masing-masing individu peserta didik tidak pernah bisa dilepaskan dari aneka kondisi kemasyarakatan dan daya-daya kolektif masyarakat yang lebih besar. Artinya, aneka proses belajar dan pembelajaran yang berlangsung dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas pada dasarnya merupakan mekanisme politis melalui mana identitas dan berbagai hasrat-kebutuhan peserta didik sebagai pribadi sekaligus warga masyarakat-negara dibentuk dan dimobilisasikan. Dengan kata lain, dalam konteks kebangsaan pendidikan tidak lagi hanya terbatas pada apa yang berlangsung dalam sekolah atau perguruan sebagai institusi formal pendidikan melainkan sudah menjelma menjadi prinsip dasar berfungsinya berbagai aparatus budaya meliputi aneka pranata sosial dalam masyarakat dalam rangka melaksanakan apa yang oleh seorang pemikir budaya Raymond Williams disebut “permanent education” atau pendidikan tanpa akhir bagi seluruh warga menuju terciptanya kehidupan bersama yang semakin demokratis, berkeadilan, dan bermartabat. Psikologi baik sebagai ilmu maupun praksis jelas memiliki peran unik dan diharapkan mampu memberikan sumbangan yang kaya dalam rangka mengawal terlaksananya ‘pendidikan permanen’ bagi warga masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti. Untuk itulah pada kesempatan ini HIMPSI mengundang segenap ilmuwan dan praktisi Psikologi di seluruh Tanah Air untuk menyumbangkan hasil penelitian, hasil pemikiran, maupun refleksi atas hasil praktik profesionalnya baik sebagai ilmuwan maupun sebagai praktisi dalam bentuk artikel ilmiah populer terkait tema besar pendidikan dengan tiga subtema parenting atau pendidikan dalam keluarga, pendidikan cerdas berinternet, dan pendidikan nasionalisme.

 

Tujuan

 

Berdasarkan pemikiran di atas, Himpunan Psikologi Indonesia bermaksud mengundang sahabat-sahabat Psikologiwan-psikologiwati meliputi ilmuwan, akademisi, dan praktisi Psikologi di seluruh Tanah Air untuk menyumbangkan artikel ilmiah populer berisi hasil penelitian, hasil pemikiran, opini, refleksi pengalaman profesional maupun pribadi terkait tema besar: pendidikan dalam konteks kebangsaan, dengan tiga subtema: (1) parenting atau pendidikan dalam keluarga; (2) pendidikan cerdas berinternet; dan (3) pendidikan nasionalisme, atau subtema lain yang masih terkait dengan tema besar.

Beberapa ketentuan tentang artikel ilmiah populer yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Ditulis dalam bahasa Indonesia.
  2. Panjang maksimal 25-30 halaman termasuk Daftar Acuan (jika ada).
  3. Diketik pada ukuran kuarto (A4) dengan spasi 1,5 Times New Roman.
  4. Dilengkapi abstrak berbahasa Inggris sepanjang maksimal 250 kata.
  5. Sebagai penutup atau bagian dari penutup dilengkapi dengan saran berupa saran praktis dan/atau saran kebijakan.
  6. Berupa tulisan baru, belum pernah dipublikasikan.
  7. Dilampiri riwayat hidup singkat meliputi yang utama riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dan daftar publikasi pilihan untuk menunjukkan kredibilitas dari gagasan yang disajikan dalam tulisan, serta alamat (alamat pos dan alamat surel) untuk keperluan korespondensi.
  8. Dikirimkan ke Tim Editor dalam bentuk naskah elektronik melalui alamat surel: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Artikel yang masuk akan direview oleh Tim Editor dan PP HIMPSI, hasilnya akan  disunting oleh Tim Editor dalam sebuah buku referensi berjudul „Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan“. Buku ini akan merupakan buku ketiga Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa yang diterbitkan oleh Himpunan Psikologi Indonesia, yang direncanakan terbit dalam tahun 2017 ini.

 

Pembaca Sasaran

 

Buku „Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan“ ini diharapkan bermanfaat bagi kalangan pembaca sebagai berikut:

  1. Pejabat dalam institusi pemerintah maupun swasta yang bergerak secara langsung maupun tidak langsung dalam layanan pendidikan baik fomal maupun nonformal.
  2. Pemuka agama, pegiat partai politik, pegiat organisasi kemasyarakatan.
  3. Profesional yang bergerak dalam layanan pendidikan informal di berbagai sektor kehidupan termasuk media massa.
  4. Dosen, guru, dan orang tua.
  5. Pegiat organisasi kemahasiswaan dan mahasiswa pada umumnya.
  6. Masyarakat luas yang memiliki kepedulian pada perkara pendidikan dan kebangsaan.

 

 

 

Jadwal

 

Tanggal

Kegiatan

Penanggungjawab

31 Juli 2017

Diseminasi undangan untuk mengirimkan artikel oleh PP HIMPSI kepada para calon penulis.

PP HIMPSI

20 Oktober 2017

Batas akhir pengiriman artikel final oleh penulis kepada Tim Editor.*

Penulis

27 Oktober 2017

Penguman hasil review oleh Tim Editor dan PP HIMPSI kepada penulis.

Tim Editor

28 Oktober s.d. 25 November 2017

Proses penyuntingan; pengerjaan sampul; permintaan sambutan Ketua Umum HIMPSI; permintaan dukungan (endorsement) pihak terkait (jika ada).

Tim Editor

27 November 2017

Draft buku siap cetak, jadi.

Tim Editor

22 Desember 2017

Buku “Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan” siap diluncurkan.

Percetakan/Tim Editor

 

*Pengiriman komitmen dan artikel oleh (calon) penulis serta komunikasi antara penulis dan Tim Editor melalui alamat surel: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. .

 

 

Daftar Acuan

 

Deklasari cerdas berinternet. (2017). Tangerang: Himpunan Psikologi Indonesia.

Dewantara, Ki Hadjar. (1962). Karja Ki Hadjar Dewantara. Bagian pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Madjelis Luhur Taman Siswa.

Giroux, H.A. (2004). Cultural studies, public pedagogy, and the responsibility of intellectuals. Communication and Critical/Cultural Studies, 1(1), 59-79.

Mangunwijaya, Y.B. (1999). Pasca-Indonesia pasca-Einstein. Esei-esei tentang kebudayaan Indonesia abad ke-21. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pencarian

Download Center

Himne Psikologi

1646745
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Semua
832
1383
5905
25993
1646745

Peta Himpsi Wilayah

Hubungi Kami

Jl. Kebayoran Baru No. 85B
Kebayoran Lama, Velbak 
Jakarta 12240

Telp.  :  021 72801625, 085282610736
Fax.  : 021 72801625
Email  : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website  : http://himpsi.or.id